Pendidikan

Alasan Bimbel Sudah menjadi Kebutuhan Pokok Bagi Para Siswa

Bimbel atau dikenal sebagai bimbingan belajar, saat ini tampaknya sudah menjadi kebutuhan pokok bagi para siswa, ditambah bimbel menawarkan harga yang cukup terjangkau bagi semua kalangan. Padahal sekitar 5 tahun yang lalu, bimbel hanyalah diminati oleh kalangan siswa yang memiliki sedikit kekurangan dalam hal belajar dan berasal dari keluarga yang mampu secara finansial.

Berdasarkan hasil peninjauan dari salah satu bimbel lokal ternama di Pekalongan, Jawa Tengah, sebagian besar siswa mengaku kurang paham dengan materi yang diajarkan di sekolah. Hal tersebut disebabkan mulai dari cara mengajar gurunya hingga materi pelajaran di sekolahan sulit mereka pahami. Khususnya materi eksak, seperti matematika, fisika dan kimia.

Lantas, apakah mereka merasa terbantu dengan mengikuti kelas ataupun privat bimbel?

Jawabannya, hampir 100 persen dari mereka merasa sangat terbantu. Hingga ada beberapa dari mereka yang mengatakan, dengan bimbel mereka menjadi lebih mencintai pelajaran eksak yang harus mereka tempuh untuk bisa lulus dari bangku sekolah (SD, SMP, dan SMA).

Namun, lagi-lagi mereka lebih mengandalkan pembelajaran di bimbel karena terkesan lebih santai dan asik. Kondisi tersebut tercipta jika antara pengajar dan para siswanya sudah memiliki hubungan yang baik seperti layaknya kakak adik. Sehingga tak segan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan.

Dari ulasan tersebut dapat terlihat bahwa bimbel memiliki dampak positif dan negatif.

Dampak positif:

  • Membantu siswa belajar dengan cara yang lebih mudah dari yang diajarkan guru di sekolahan.
  • Menyadarkan siswa kalau belajar itu sebenarnya tidak membosankan.
  • Meraih nilai yang memuaskan sesuai dengan yang diharapkan.
  • Dapat mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari sekolahan dengan bantuan bimbel.

Dampak negatif:

  • Siswa menjadi ketergantungan belajar dengan bimbel.
  • Para orang tua harus menyisihkan uangnya per bulan untuk biaya bimbel sang anak.
  • Menurunkan semangat siswa ketika belajar di sekolah.

Perlu diketahui, sebenarnya bimbel tak sepenuhnya menjadi kebutuhan pokok bagi para siswa bila mereka belajar dengan sungguh-sungguh di sekolahan dan mengulanginya kembali di rumah. Bisa pula, mereka  mencari materi maupun contoh soal beserta pembahasannya di google.

Jadi, bukannya mereka bodoh atau tak memahami pelajaran yang diajarkan di sekolahan. Hanya saja mereka belum mencoba dengan cara belajar tanpa ketergantungan dengan bimbel. Kuncinya adalah semakin banyak memperluas materi dengan latihan soal, pelajar pasti bisa berhasil meraih kesuksesan di bangku sekolah.

Selain itu, tak semua guru yang mengajar di sekolahan berlaku instan dalam mengajari siswa-siswanya. Ada para guru yang selalu mencatatkan materi hingga menjelaskannya kepada para siswanya. Namun, saat siswanya menemukan kesulitan pada tugas maupun PR yang diberikan, mereka lebih memilih lari ke bimbel untuk menyelesaikannya dengan tuntas.

Salah satu faktornya adalah jam pelajaran yang diberikan tak sebanding dengan semua tugas sekolah yang diberikan oleh guru. Sehingga tidak semua PR bisa dibahas dengan jelas oleh guru kepada siswanya.

Salahkah kurikulum pendidikan yang dicanangkan di Indonesia?

Tentunya, aturan mengenai kurikulum pendidikan sudah menjadi kewajiban bagi para guru dan siswanya untuk bisa beradaptasi dalam menyukseskan pendidikan di Indonesia.

Namun, kurikulum pendidikan yang berlaku di Indonesia cenderung mengalami pergantian dalam waktu yang sangat singkat yakni sekitar 6 sampai 7 tahun. Hal inilah yang menjadikan sistem pendidikan di Indonesia semakin menyulitkan para pengajarnya.

Terakhir, kurikulum pendidikan di Indonesia menganut kurikulum 2013 (Kurtilas) sebagai pengganti kurikulum 2006 (KTSP). Pada Kurtilas, terdapat materi yang dirampingkan seperti Bahasa Indonesia, IPS, PPKn, serta materi yang ditambahkan seperti materi Matematika, Fisika dan Kimia.

Dengan penambahan materi eksak yang terkesan dari dulu adalah materi tersusah, para siswa pun lebih memilih bimbel sebagai tempat belajar yang paling nyaman. Jadi, wajar saja bimbel mulai menjadi kebutuhan pokok bagi para siswa sejak 5 tahun yang lalu.

Sebagai informasi, belum lama ini terdengar kabar bahwa Presiden RI yang ke-7, Joko Widodo merencanakan untuk menyusun kurikulum baru pengganti Kurtilas, yang dibahas bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, pada Rabu (2/8/2018).

Menurut laporan dari Muhadjir, kurikulum terbaru tersebut akan dirumuskan sedemikian rupa dengan mengikuti perkembangan kebutuhan dunia usaha. Presiden Joko Widodo sendiri lebih menginginkan penataan kurikulum lebih spesifik lagi. Misalnya jurusan elektro itu kan sangat umum, Jokowi ingin di jurusan tersebut bisa lebih spesifik lagi sehingga betul-betul menjadi proses belajar-mengajar yang merespon dinamika kebutuhan pasar.

Kita tunggu saja, bagaimana sistem kurikulum pendidikan ke depannya. Apakah bisa meningkatkan sistem pendidikan di Indonesia dan mencerdaskan generasi muda bangsa Indonesia?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *