Religi

Sabar: Mudah untuk Dikatakan, Sulit untuk Dilakukan

Sabar sering dikatakan sebagai perilaku atau sikap menahan diri dari emosi yang ingin diluapkan. Seringkali seseorang diuji kesabarannya oleh Sang Pencipta dengan berbagai masalah yang menimpa hidupnya. Entah itu berhubungan dengan orang lain maupun dengan makhluk hidup.

Tak hanya tumbuhan saja yang berbuah, kesabaran juga dapat membuahkan hasil yang dikenal sebagai buah kesabaran. Sebagian besar manusia yang hidup di bumi ini pasti menginginkan kebahagiaan. Kebahagiaan itulah yang merupakan salah satu dari buah kesabaran yang rasanya sangat manis. Tidak kalah manisnya dengan buah mangga manalagi.

Manusia atau human atau insan mungkin akan merasa kesulitan untuk mempraktekkan sabar. Seperti pepatah mengatakan, praktik memang tak semudah teori. Namun, dengan menerapkan kesabaran di dalam hidup kita. Jiwa kita akan terasa tentram dan damai tanpa adanya perasaan ingin marah-marah ataupun balas dendam.

Dalam ajaran Islam, contoh kisah Nabiyullah SAW yang diuji kesabaran hidupnya oleh Allah SWT sangatlah banyak. Salah satunya adalah Nabi Ayyub yag bernama asli Ayyub bin Mush bin Razah bin Al-‘Ish bin Ishaq bin Ibrahim Al-Khalil, berasal dari Romawi. Beliau diuji kesabarannya oleh Allah SWT melalui rasa sakit yang dideritanya hingga terlihat sangat sangat kurus di mana terlihat hanyalah tulang dan urat saraf di permukaan kulitnya, tanpa daging. Penyakitnya itu merupakan penyakit kulit yakni kusta dan lepra.

Menurut Tafsir Al-Baghawi, sebelumnya beliau merupakan seorang yang kaya raya dengan harta yang melimpah ruah, termasuk tanah yang luas di negeri Batsniyyah. Penyakit yang dideritanya selama 18 tahun tersebut merupakan cobaan yang Allah berikan kepada Nabi Ayyub untuk menguji kesabarannya. Padahal Nabi Ayyub merupakan sosok yang baik, bertaqwa, dan sangat menyayangi orang-orang miskin, janda, anak yatim, kaum dhuafa dan ibnu sabil. Namun, ternyata, ujian dari Allah itu tak memandang siapa yang baik dan siapa yang buruk di mataNya.

Karena penyakit yang dideritanya, Nabi Ayyub pun dijauhi oleh orang-orang disekitarnya. Akhirnya beliaupun memilih untuk pergi mengasingkan diri, dan hanya ditemani oleh istrinya yang bernama Layaa binti Ya’qub. Layaa yang waktu itu mengurus Nabi Ayyub seorang diri merasa kelelahan dan akhirnya mempekerjakan orang lain untuk mengurus suaminya.

Saking sabarnya Nabi Ayyub yang selalu menjaga lisan dan hatinya, Allah karuniakan kembali kepadanya istri pengganti dan anak-anak (keluarga) serta harta yang banyak. Hal ini dianggap sebagai buah dari kesabaran dan keridhoan Nabi Ayyub dalam menghadapi musibah di dunia, sebelum ia mendapatkan balasan lagi di akhirat kelak. Sebab, Nabi Ayyub senantiasa bersujud dan berdzikir kepada Sang Penciptanya.

Allah berfirman di dalam Alquran dalam Surah Shaad ayat 41 sampai 44 yang artinya: Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya, sesungguhnya aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan. Hantamkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum. Dan Kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran. Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah. Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya).

Jadi, buat kita yang sedang diuji kesabarannya oleh Sang Pencipta, jangan emosi dan janganlah mengeluh. Tetap sabar, tawakal dan tingkatkan iman dan taqwa kita kepadaNya. Suatu saat nanti, pasti kita diberikan buah kesabaran yang sangat manis dalam kehidupan dunia dan akhirat. Aamiin…

Kemudian, bagaimana cara kita bersikap sabar saat sedang diuji oleh Allah SWT?

  • Ingatlah kepada Allah SWT dengan cara beribadah dan berdzikir (menyebut namanya).
  • Tahan emosi dengan memikirkan hal-hal yang positif dari masalah yang menimpa kita. Misalnya, saat kita dimarahi oleh orang tua maka kita harus yang lebih introspeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya.
  • Selalu berdoa untuk kebaikan hidup kita.
  • Jangan langsung menyalahkan orang lain apalagi Allah SWT atas semua musibah/masalah yang menimpa kita.
  • Jangan terlalu dipikirkan masalah tersebut, kuncinya hanyalah berdoa, berusaha dan tawakal untuk mengatasinya.
  • Ada baiknya kita menangisi masalah tersebut sambil menyesalinya, karena hal itu akan membuatmu bangun dan semangat untuk memulai hal yang baru yang lebih membuatmu merasa bersyukur.
  • Jangan pernah berpikir untuk dendam ataupun menyakiti orang lain yang membuat kita merasa tersinggung.
  • Jangan pernah menganggap rendah derajat seseorang yang telah membuat kita emosi. Misalnya saja seorang bos atau atasan yang memarahi karyawannya. Sebab, pengukuran derajat seseorang merupakan kuasa Allah SWT.
  • Senantiasa berbuat baik kepada semua makhluk hidup ciptaan Allah.

Itulah kunci kesabaran untuk manusia untuk menjadi seseorang yang mulia di mata Allah SWT. Selain itu, kita juga bisa meniru kesabaran yang sedang dilakukan oleh warga gempa di Lombok dan sekitarnya. Meskipun bencana gempa susulan melanda tempat tinggal mereka, namun mereka tetap semangat dan bersyukur dalam menjani kehidupan.

Allah berfirman di dalam Surah Al-Baqarah ayat 155 sampai 156, yang artinya: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali)“.

Dengan demikian, buah dari kesabaran yang sangat manis di hidup kita adalah dicintai oleh Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *